Home / Motivasi / William Wilberforce


William Wilberforce


William Wilberforce

Pada tahun 1807 bertempat di Britania Raya (Inggris), pada masa itu Inggris mengalami zaman puncak perbudakan orang-orang kulit hitam yang kebanyakan berasal dari Afrika. Di London para budak itu dijual bebas di pasar seperti halnya barang dagangan yang lain. Biasanya orang-orang kaya kulit putih memilah-milah budak mana yang akan dibelinya. William Wilberforce adalah seorang bangsawan kaya Inggris yang sedang menyusuri

pasar itu untuk mencari seorang budak. Ia menghampiri satu pedagang yang memiliki banyak koleksi budak untuk dipilih. Lalu katanya : "Saya ingin kamu menunjukan kepada saya budak yang paling jelek yang kamu punya." Mendengar ucapan pembelinya, pedagang itu sontak kaget dan juga dahinyapun terkerut heran. Kemudian ia menunjukan kepadanya seorang budak yang tidak pernah disukai oleh pembeli. Budak tersebut kelakuannya buruk, beringas, selalu mengumpat saat akan ditawar, bahkan akan meludah ke muka pembeli jika mereka berada terlalu dekat. Lalu terjadilah transaksi pembelian dan budak itu-pun dibawa pulang oleh William ke rumahnya. Tanpa bosan budak itu mengumpat di sepanjang perjalanan menuju rumah. bahkan sebuah ludahan ke muka William. Melihat kelakuan budak itu, bukan kemarahan yang William tunjukan untuk membalasnya, namun ia dengan sabar berkata : "Tenanglah, duduklah di kursi itu sebentar." Setelah itu masuklah William ke dalam kamarnya dan terlihat menulis sebuah surat. William berkata pada budaknya : "Ini adalah surat pembebasanmu, sekarang kamu adalah orang merdeka.". Mendengar itu sontak budak itu gembira begitu rupa, dan setelah dilepaskan belenggunya, berlarianlah ia keluar dari rumah itu. Sepertinya ia telah melupakan semua hal buruk yang telah ia alami sebagai seorang budak. Beberapa waktu kemudian, setelah begitu kelelahan ia berteriak-teriak merayakan hari kebebasannya, mulailah ia berpikir tentang jalan hidupnya. Ia melihat ke sekelilingnya, dilihatnya kota London yang begitu ramai, ia bingung harus bagaimana, kemanakah akan dilangkahkan kakinya hari itu. Lalu ia mulai merenungkan hal-hal yang baru dialaminya, dan disadarinya bahwa ternyata ada satu orang yang menurutnya sangat berarti buat hidupnya. Budak itupun kemudian kembali ke rumah William. Begitulah kisah dari London 1807 yang mengingatkan kita akan Tuhan Yesus yang telah membebaskan kehidupan kita dari perbudakan dosa. Itulah saat Paskah. Darah-Nya yang tercurah di kayu salib untuk menyelamatkan kita. Ia disalibkan karena dosa-dosa kita. Seluruh penghukuman dosa-dosa kita ditimpakan kepada Tuhan Yesus supaya kita boleh hidup dan selamat.




Renungan Terbaruview all

DIA PERGI UNTUK KEMBALI

access_time06 April 2021 08:54:14

Rendah Hati & Sabar

access_time30 Maret 2021 09:23:11

MENJALIN HUBUNGAN KASIH

access_time23 Maret 2021 08:38:32

Recharge Your Soul Terbaruview all

BEKERJA DENGAN HATI

access_time 18 Maret 2020 09:23:39 folder_open 650

TAYLOR MORRIS

access_time 11 Maret 2020 08:16:18 folder_open 2.854

PENGAMPUNAN

access_time 05 Maret 2020 08:28:32 folder_open 594
menu
menu