Home / Motivasi / TANGIS UNTUK ADIK KU


TANGIS UNTUK ADIK KU


TANGIS UNTUK ADIK KU

Ini adalah kisahku. Aku dilahirkan di sebuah desa pegunungan yang sangat terpencil. Setiap hari orang tuaku membajak tanah.. Aku mempunya seorang adik, dia tiga tahun lebih muda daripada aku. Dia sangat mencintaiku lebih daripada aku mencintainya. Suatu ketika aku mengambil uang dari laci ayahku. Aku menggunakannya untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekitarku membawanya. Ayah segera menyadarinya. “Siapa yang mencuri uang itu?” tanya ayah. Aku hanya terpaku ketakutan. Tiba-tiba adikku berkata “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang ayah menghatam punggung adikku bertubi-tubi. Malamnya aku dan ibu tidur memeluk adikku. Tubuhnya penuh luka, tapi dia tidak menitikkan air mata sama sekali. Dipertengahan malam aku mulai menangis meraung raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata “Kak, jangan menangis lagi”. Ketika adikku kelas 3 SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kota. Pada hari yang sama aku diterima di universitas provinsi. Tanpa disangka, adikku berkatan kepada Ayah,  “Ayah aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca buku. ”Ayah memukul adikku di wajahnya. “Mengapa kamu mempunyai semangat yang lemah? Kemudian bapak mengetuk setiap rumah di desa untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tangan ke muka adikku yang membengkak, “Seorang anak laki laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini,” Aku telah memutuskan untuk tidak meneruskan ke Universitas. Siapa sangka esoknya, sebelum subuh adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit roti yang sudah mengering. Dia meninggalkan secarik kertas diranjang bertuliskan “Kak, masuk ke universitas tidak mudah, saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang”. Aku menggengam erat kertas itu dan menangis. Ketika itu adikku berumur 17, aku 20 tahun. Saat ini Aku berusia 33 tahun dan sudah menikah. Adikku berusia 30 tahun ketika itu dia menikah dengan seorang gadis petani dari desa. Di acara pernikahannya, pembawa acara bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan cintai?” Bahkan tanpa berpikir dia menjawab, “Kakakku!” Dia melanjutkan dengan sebuah cerita yang bahkan tak kuingat. “Ketika saya pergi sekolah saat SD yang berlokasi di desa lain, saya dan kakak harus berjalan 2 jam untuk pergi ke sekolah. Suatu hari saya kehilangan satu sarung tangan. Kakak memberikan satu kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan selama 2 jam itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya gemetar kencang karena cuaca yang begitu dinginnya, sampai-sampai dia tidak bisa memegang sumpit. Sejak hari itu saya bersumpah, selama saya masih hidup saya akan menjaga kakak dan akan selalu baik padanya. ”Tepuk tangan membanjiri ruangan itu dan semua orang menatapku. Di depan kerumunan air mata bercucuran turun dari wajahku seperti aliran sungai.


 

 

 




Renungan Terbaruview all

MENGUTAMAKAN TUHAN ATAU YANG LAIN ?

access_time11 Desember 2019 07:55:05

BADAI KEHIDUPAN

access_time04 Desember 2019 10:05:00

HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN

access_time26 November 2019 08:22:46

Recharge Your Soul Terbaruview all

TIDAK MELUPAKAN KEBAIKAN

access_time 11 Desember 2019 07:56:03 folder_open 8

PISAU DI TANGAN SI MUNGIL

access_time 04 Desember 2019 10:07:33 folder_open 19

SUSU TERAKHIR

access_time 26 November 2019 08:23:35 folder_open 30
menu
menu